Page 385 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 385

Keping 72


           mahoni. Refleksi riak air membayang di seluruh ruangan.
           Kamar bawah tanah itu ternyata dibangun bersisian dengan
           kolam renang yang tampak bagai akuarium raksasa, terbingkai

           sebesar satu dinding yang tak lain adalah sumber dari pendar
           biru tadi. Toni menelan ludah. “Rumah di kompleks ini begini
           semua, Mas? Rumah bekasnya Diva sudah ada yang ngisi?”
             “Ini aku rancang sendiri,  Ton. Khusus untuk markas
           Supernova. Suka?”
             Toni melihat sekeliling. Tampak meja besar bentuk U berisi
           CPU, keyboard dan dua laptop. Boks-boks server berjajar rapi.
           Kursi kerja ukuran eksekutif memunggungi sofa kulit hitam
           yang kelihatan senyaman kasur tidur. Layar monitor terbesar

           dan tercanggih di pasaran tampak dipasang bersisian. Ruangan
           itu berhasil menginspirasinya untuk suatu hari membangun
           markas Francesco  Toni Prayitno Bertolozzi.  “Boleh juga,”
           sahutnya pendek.
             Dimas dan Reuben menyusul dengan mulut sama-sama
           menganga.
             “Reuben, kalau Supernova adalah jaring laba-laba, kita
           sekarang ada di pusat sarangnya.” Lemas, Dimas terduduk di
           sofa. “Ini sinting.”
             “Kamu terima kos?” tanya Reuben kepada Re.
             “Kalian semua sekarang sudah jadi orang dalamnya
           Supernova, kapan pun bisa mampir.” Re tersenyum.  “Toni,

           silakan  kerjakan  apa  pun  yang  harus  kamu  kerjakan.”  Re
           mendorong kursi kerjanya ke hadapan  Toni.  “Mudah-
           mudahan nggak ada masalah serius.”


           370
   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389   390