Page 387 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 387
Keping 72
“Selamat datang kembali.”
Suara Simon menciut seperti pindah ke pengeras suara
murahan. Kini Zarah merasakan berbagai penghalang dalam
dimensi yang ia huni. Suara yang harus menjelajah udara untuk
bisa terdengar. Bahasa yang harus ada untuk menjelaskan niat.
Tubuh yang harus ada untuk merampungkan tindakan. Waktu
yang harus ada untuk menjelaskan pergerakan dan ruang.
“Jangan buru-buru bangun. Kamu pasti masih disorientasi,”
kata Simon seraya melepaskan telapak Zarah dari tongkatnya.
“Rasakan dan gerakkan tubuhmu pelan-pelan.”
Lambat dan hati-hati, Zarah menggerakkan jemari tangan
dan kakinya. Mengatur napasnya yang tertatih. Ia merasakan
matanya memanas. Tanpa memahami kenapa, air matanya
mengalir. Sambung-menyambung.
“Saya… saya… nggak bisa…,” bisik Zarah terbata.
“Too much?” Simon tersenyum kecil. “Tidak ada satu cuil
pun dari dirimu yang bisa menganggap semua tadi adalah
kebohongan, hasil hipnotis, proses cuci otak. Tidak mungkin.
Semua yang kamu lihat berasal dari memori dormanmu. Saya
hanya membantu kamu mengaksesnya lagi.”
Zarah bangkit duduk. Tatapannya kosong. Ia beringsut
menyandarkan punggungnya yang lemas, mengusap aliran air
mata tanpa isak yang terus membanjiri pipinya.
“Jangan kira saya tidak mengagumi kalian, para Peretas,
yang sudi berkali-kali hidup dalam cangkang sempit ini,
bermain drama dengan lautan manusia amnesia.” Simon
372

