Page 384 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 384

IntelIgensI embun PagI

              Re pun menggiring tamu-tamunya masuk. Rumah itu resik
           dan sepi.

              Perhatian Toni singgah ke sebuah plunge pool yang berada
           di sebelah dapur modern, terpisahkan oleh teras dengan dek
           kayu yang dikelilingi hamparan rumput hijau. Rumah itu
           terlalu keren dan terlalu besar untuk dihuni sendirian. “Nggak
           ada pembantu, Mas?” tanya Toni, berpikir ia tak keberatan

           sesekali bantu mengurus.
              “Cuma dua hari sekali, pulang-pergi,” jawab Re. “Kita ke
           bawah?”
              “Ke bawah?” ulang  Toni. Kepalanya menengok, melihat
           sebuah tangga kaca dengan desain melayang menuju area
           mezzanine. Ingin rasanya ia bertanya kenapa bukan ke atas
           walau Re tentunya lebih tahu rumahnya sendiri.
              “Lantai bawah tanah, maksudnya?” Dimas mengonfirmasi.

           Setahunya, ruangan bawah tanah tidaklah lazim di rumah
           tipikal Indonesia. Sepintas ia membayangkan kamar bersarang
           laba-laba, meja tua, dan Re bekerja di sana diterangi bohlam
           dengan kabel menjuntai.
              Re berjalan ke sebuah pintu berkunci digital, memasuk-

           kan kombinasi angka yang ditiknya cepat. Pegangan pintu
           stainless itu membuka, dan tampaklah siluet tangga. Cahaya
           biru berpendar di bawah sana.
              Toni duluan mengikuti langkah Re, menuruni tangga
           berlapis karpet abu-abu muda yang empuk di telapak.
           Perjalanan mereka berakhir di ruangan berlantai parket



                                                                 369
   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389