Page 391 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 391
Keping 72
memprediksi bahwa akan ada yang menggantikan posisinya
sebagai kepala keluarga. Namun, tidak ada yang bisa
menggantikannya melindungi biota di Bukit Jambul selain
Zarah. Tegas, ia pun menggeleng. “Ayah pasti lebih memilih
mati daripada mengorbankan Bukit Jambul.”
“Setelah tur kita tadi, kamu masih mengira ‘mati’ ada
artinya? Samsara cuma penatu yang mencuci baju-baju lusuh.
Membunuh Firas sama saja menghadiahinya baju baru. Itu
sama sekali bukan hukuman, Zarah.”
“Di mana Ayah?”
“Sunyavima. Siksaan yang sesungguhnya.”
Zarah belum pernah mendengar kata itu sebelumnya,
tapi bulu kuduknya meremang. Alam bawah sadarnya seperti
mengirimkan pertanda siaga.
Simon mencondongkan badannya ke depan, menatap
Zarah lekat. “Isolasi total. Terjebak dalam kegelapan abadi
dan masih bisa merasakan waktu. Dua belas tahun Firas
mengalaminya. Percayalah, setiap detik yang berjalan di sana,
Firas mengharapkan kematian bisa menjemputnya.”
“Kalau saya menolak?”
Simon bersandar, lalu menengok ke belakang. “Bagaimana,
Togu? Ada usul?”
“Peretas mati, keluarganya yang amnesia berduka. Kalau
keluarganya yang mati, Peretas menjalani sisa hidupnya dalam
siksa. Jujur saja, aku lebih suka yang kedua,” kata Togu.
376

