Page 394 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 394

IntelIgensI embun PagI

              Pikiran  Toni mencabang ke berbagai pertanyaan.
           Membedah sepak terjang Foniks secara teknis pemrograman

           cuma masalah waktu yang relatif singkat. Pertanyaannya yang
           lebih besar adalah, ada apa dengan hari ini? Untuk apa Foniks
           ditanam? Siapa yang menanamnya?
              Analisisnya tiba ke sekuens awal dari rangkaian komando
           Foniks. Dugaannya tepat, Foniks diatur untuk bereaksi ketika

           mendeteksi lingkungan baru. Pindahnya Foniks ke laptop
           membangunkan program itu.  Toni membaca komando
           berikutnya. Matanya membelalak. Parasnya berubah pucat.
           “Kampret,” desisnya.
              Serta-merta, ia melompat dari sofa, mengecek komputer
           utama. Disusul mengecek satu laptop lain yang juga terhubung
           dengan Supernova. Layar-layar itu memampangkan hal yang
           sama. Sebuah edisi baru, dengan tampilan dan format yang

           sama sekali berbeda, telah terkirim ke puluhan ribu pelanggan
           Supernova. Foniks telah melakukannya di detik pertama Toni
           menjalankan proses analisis.
              “Kampret, kampret,” makinya berkali-kali sambil meremas
           kepalanya yang betulan seperti mau pecah. Toni tak tahu apakah

           itu akibat migrain akut yang memuncak, atau kepanikan, atau
           kombinasi keduanya.
              Terdengar suara pintu terbuka dan debup jejak-jejak kaki
           berlari di tangga karpet. Menghamburlah Re, Dimas, dan
           Reuben ke ruangan. Dari ekspresi mereka, Toni tahu ketiganya
           berbagi kepanikan dan kekagetan yang sama.



                                                                 379
   389   390   391   392   393   394   395   396   397   398   399