Page 417 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 417

Keping 74


             “Kabarin kalau sudah beres. HP lo jangan mati lagi.” Bong
           melirik sekilas sebelum menutup pintu.
             Fadil menunggu  sejenak hingga lalu-lalang mobil

           melonggar dan memungkinkannya untuk berputar balik. Dari
           kaca spion, terlihat Bodhi dan Alfa berjalan ke persimpangan.
             “Pelan-pelan, Dil. Jangan masuk tol dulu,” kata Bong.
             “Kenapa memangnya?”
             Bong tidak menjawab. Matanya terus terpaku ke kaca
           spion. Ketika mobil mereka sudah kembali mendekati gerbang
           arah Jakarta, Bong membuka kunci pintu.
             “Gue berhenti di pinggir, Dil. Lo balik ke Jakarta.”
             “Ngapain lo?”

             “Ada yang nggak beres sama si Batman.”
             “Ya’elah, Bong. Si Batman sudah gede. Ngapain lo kayak
           emak-emak paranoid ngikutin dia?” kata Fadil. Kendati
           demikian, mobilnya manut untuk menepi.
             “Entar malam gue ke tempat lo lagi!” Bong melangkah
           keluar, menepuk pintu mobil Fadil seolah melecutnya agar
           segera pergi.
             Bong berjalan tanpa menoleh. Fadil melajukan
           kendaraannya, perlahan memasuki arus, kembali ke Jakarta.
           Fadil mengenal Bong jauh lebih lama dibandingkan Bodhi,
           dan belum pernah Fadil melihat Bong begitu peduli kepada
           seseorang. Meski sikap Bong sehari-hari tetap wajar terhadap

           Bodhi, Fadil selalu merasa Bong memuja Bodhi sebagaimana
           ia mengagung-agungkan prinsip-prinsip sakral hidupnya yang
           pro-anarki. Bodhi seperti agama bagi Bong.


           402
   412   413   414   415   416   417   418   419   420   421   422