Page 455 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 455

Keping 77


           langkahnya mendaki Bukit Jambul. Pembuktian kata-kata
           Simon.
             “Setop!” seru Simon. Seperti disinkronisasi, Togu dan Sati
           sama-sama terpaku. Hanya Zarah yang celingukan melihat sisa
           rombongannya mematung tiba-tiba. Puncak sudah terlihat,

           hanya beberapa puluh meter lagi.
             “Tarikannya tidak mungkin sekuat ini,” gumam Sati. “Ini
           jebakan, Simon.”
             “Mungkin saja,” balas Simon. “Kamu pikir kunjungan kita
           tidak tercium oleh Infiltran? Mereka sudah tahu aku datang.
           Mereka pasti pasang kuda-kuda.”
             “Ini bukan energi Infiltran,” tegas Sati.
             Simon mendatangi Zarah. “Kita lakukan sekarang. Kamu
           naik ke puncak, buka portal itu. Aku akan di sini, memandu
           Firas keluar.”
             “Simon!” sentak Sati. “Dia bahkan belum pegang pecahan
           batu gugusnya. Dia mentah!”
             “Kita punya ini.” Simon mengeluarkan sesuatu dari saku
           celananya. Ke hadapan Zarah, Simon menghadapkan sekeping
           batu. Dalam gelap, Zarah tidak bisa melihat jelas detailnya.
           Namun, batinnya bergolak resah. Batu itu memancing sesuatu.
           Denyutan kepalanya semakin tidak tertahankan.

             “Saya butuh minum,” ucap Zarah dengan napas ngos-
           ngosan. Bulir-bulir keringat dingin mengaliri pelipisnya.
             Sati  sudah hendak  bergerak,  tapi ditahan oleh  Simon.
           “Biarkan. Aku butuh tekanan itu.”  Tangan Simon yang
           memegang batu tetap bergeming.  “Batu ini milik ayahmu,
           Zarah.”

           440
   450   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460