Page 454 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 454

IntelIgensI embun PagI

           tepi jalan. Terlalu mencolok untuk diabaikan. Bodi lebarnya

           nyaris memblokir jalan kampung yang sempit.
              “Mereka ke arah sana.” Bodhi menunjuk ladang yang gelap.
           Terang bulan menampakkan siluet lereng bukit besar.
              “Kita nggak ada senter, Bod. Kita juga nggak punya lampu

           sakti kayak Pak Kas.”
              “Jalur yang aku tangkap sejelas melihat sinar laser. Kamu
           cukup modal percaya saja. Siap?”
              Alfa meraba saku celananya, memastikan batunya ada. Ia
           pun mengangguk. “Kamu di depan.”
              Berdua, mereka berjalan beriringan di pematang, menuju

           kaki Bukit Jambul.







           Togu memimpin rombongan yang berjalan hanya dengan
           mengandalkan tongkatnya. Berisik kersuk tangkai dan
           dedaunan mengiringi setiap langkah. Kelelawar mengepak dan
           berseliweran di atas kepala. Zarah mendongak. Tidak hanya
           tanaman di dekat kaki mereka yang merebah, pucuk-pucuk

           pohon ikut menyibak untuk memberi jalan bagi terang bulan.
              Semakin dekat menuju puncak, jantung Zarah bertalu-
           talu. Kepalanya berdenyut semakin kencang. Zarah tahu ia
           tidak bisa berhenti. Apa pun hasil akhirnya, apa pun risikonya,

           jawaban yang ia tunggu belasan tahun kian mendekat seiring



                                                                 439
   449   450   451   452   453   454   455   456   457   458   459