Page 475 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 475
Keping 79
Mengenakan mantel panjang ber-capuchon yang menutupi
setengah wajahnya, orang di sampingnya menyapa, “Terima
kasih sudah datang.” Suara itu merdu, sekaligus kaku.
Dalam hati, Bong kembali dikejutkan. S ternyata seorang
perempuan. Berperawakan sedang. Selain suara dan tinggi
badannya, tak ada lagi yang bisa disimpulkan dari wujudnya
yang menyaru dengan malam.
“Kamu masuk ke rumah itu? Tidak menyentuh apa-apa?”
“Sama sekali nggak. Saya cuma lihat,” jawab Bong. “Saya
bisa antar langsung ke lokasi.”
“Tidak perlu. Saya minta kita ketemu langsung karena saya
ingin merekam informasinya. Dengan seizin kamu.”
“Merekam? Caranya?”
Dari sosok serbahitam itu tahu-tahu menjulurlah tangan
berkulit putih dengan telapak terbuka. “Taruh tangan kamu.
Sebentar saja,” katanya.
Bong sama sekali tak menduga permintaan itu.
“Kalau kamu tidak keberatan.” Suara itu berkata lembut.
Sekilas, Bong memperhatikan tangan itu. Halus dan lentik
seperti tangan di reklame krim perawatan kulit. Dengan
gerakan meragu Bong menumpangkan telapaknya. Hangat
terasa. Bong merasakan sedikit sensasi menggelitik di kepala,
seperti semutan ringan.
Sentuhan itu terjadi tak lebih dari lima detik. Perempuan
itu menarik kembali tangannya perlahan. “Terima kasih sudah
percaya,” ucapnya.
460

