Page 480 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 480

IntelIgensI embun PagI

              Etra menghambur, merangkul Mi’un, kemudian buru-buru
           masuk ke mobil tanpa menengok ke belakang lagi.

              “Cabut dulu, ya.” Toni menepuk pundak Mi’un. “Titip si
           Kewoy, Iksan, Mas Yono.”
              “Nggak lucu, ah.” Mi’un berdecak.
              “Gua kabarin.” Toni mengacungkan satu jempolnya sambil
           tersenyum, kemudian duduk di jok depan.

              Mi’un mendekatkan badannya ke bodi mobil, berkata
           dengan pelan dan tegas, “Francesco Toni Prayitno Bertolozzi,
           awas lu kalau nggak balik. Gua kejar lu sampai liang kubur.”
              Kini  Toni  mengacungkan  kedua jempolnya.  Tersenyum
           lebih lebar. Dalam hati, ia meringis. Ucapan Mi’un terasa
           mencubit. Toni mempertanyakan ulang banyak hal hari ini,
           termasuk soal hidup dan mati.
              Mi’un berdiri memandangi MPV bermesin diesel itu

           melaju hingga hilang di belokan jalan. Entah mengapa, ia
           merasa kehilangan kedua sahabatnya.







           Sejak meninggalkan Bandung, ingatan masa kecilnya dengan
           Bong terus mencuri lamunan Toni. Kedekatan mereka yang
           begitu alamiah. Nasib mereka yang sama-sama teralienasi dari
           keluarga. Orang-orang sering mencandai Bong yang mukanya
           penuh lubang-lubang bekas jerawat seperti kawah bulan.
           Namun, bukan itu yang membuat Bong begitu sebal dengan



                                                                 465
   475   476   477   478   479   480   481   482   483   484   485