Page 548 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 548

IntelIgensI embun PagI

           sakit mati diledakkan granat,” gumamnya sambil menggeram.
           Tekanan yang mendesak mereka semakin kuat.







           Mobil bermesin diesel itu meraung kencang di jalan tol,
           setengah jalan meninggalkan Bogor menuju Jakarta.
              “Kalian nyadar, nggak? Kita nggak kena lampu merah dari
           tadi,” celetuk Toni dari jok belakang.
              Alfa manggut-manggut.  “Mereka nggak bikinin kita
           wormhole, tapi mereka intervensi lampu lalu lintas.”

              “Lumayan daripada nggak,” sahut Bodhi.
              “Kita masih kurang cepat.” Jemari Alfa bergoyang gelisah.
           “Gio, no offense, tapi ompung-ku bisa menyetir jauh lebih cepat
           daripada ini.”
              “Liong menyerahkan kunci mobilnya kepadaku, oke?”
              “Menyerahkan kunci bukan berarti kamu harus nyetir terus
           sampai ke bandara. Karena kita nggak dikasih karpet terbang,
           minimal harus ada yang berani ngegas mobil ini sampai
           mentok,” tandas Alfa.  “Aku nggak punya SIM Indonesia.
           Bodhi?”
              “Nggak bisa nyetir.”
              “Toni?”

              “Aku biasa disopirin, sori.”
              “Zarah?”
              “Aku juga nggak punya SIM Indonesia. By the way, buat
           apa lagi peduli soal SIM di situasi begini?”


                                                                 533
   543   544   545   546   547   548   549   550   551   552   553