Page 549 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 549

Keping 85


             “Minggir kiri, Gio. Saya yang nyetir.” Elektra bersuara.
             “Kamu bisa?” Alfa bahkan tidak terpikir untuk menanyakan

           soal SIM kepada Elektra.
             “Dedi cuma kasih izin ke dua orang buat bawa mobilnya.
           Saya dan Pak Muslim. Pak Muslim buat ngantar barang, saya
           buat ngejar tagihan.”
             Alfa tidak tahu siapa itu Dedi dan Pak Muslim, tapi Elektra

           terdengar meyakinkan.
             Dalam  hati,  Elektra  merasa  tidak  perlu  menambahkan
           keterangan bahwa sebagian besar tagihan mereka menjadi
           piutang yang tak tertagih hingga Dedi wafat.
             Mobil itu menepi. Gio pindah ke jok tengah. Posisi yang
           mengharuskannya duduk bersisian dengan Zarah.  Wajah
           keduanya  terlihat  enggan.  Namun,  tak  ada  pilihan.  Jok
           belakang sudah diisi oleh Bodhi dan Toni.

             Elektra mengoper persneling. Semua teman-temannya
           terdorong ke belakang. Dalam waktu singkat, mobil mereka
           menerabas jalan tol dengan kecepatan tinggi.
             “Not bad,” komentar Alfa.
             “Bapaknya Elektra sudah lama meninggal,” Toni kembali

           berceletuk. “Mobil mereka dijual dan Elektra belum pernah
           punya mobil lagi.”
             “Oh,  ya?” Alfa  bersiul  kagum.  “Kamu  nyetirnya  masih
           lancar, kok.”
             “Saya latihan terus pakai Crazy Taxi di PS.”
             “What? Kamu punya SIM, kan?”



           534
   544   545   546   547   548   549   550   551   552   553   554