Page 552 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 552
IntelIgensI embun PagI
“Makasih, Pak.” Toni menyambar gagang pesawat telepon
nirkabel itu.
“Kalau yang ini untuk kirim pesan singkat saja.” Petugas itu
lalu menyerahkan satu ponsel dan pamit pergi.
“Mereka nggak bikinin kita wormhole, tapi jaringan Umbra
mereka nggak jelek-jelek amat, kan?” kata Toni. Cengirannya
tidak bertahan lama. Hadirnya alat-alat komunikasi itu
mengindikasikan satu hal. Kesempatan untuk salam
perpisahan. Toni menyerahkan telepon itu kepada Elektra.
“Kamu mungkin perlu telepon kakakmu.”
Elektra menggeleng. “Dia sudah tahu saya mau mati. Kamu
saja.”
Toni terdiam. Orang pertama yang terpikir olehnya
adalah Bong dan Re. Menyusul Dimas dan Reuben. Kepada
keempatnya, ia tak tahu harus bilang apa. “Nggak perlu.” Toni
menggeleng. Ia pun mengedarkan pandangan. “Ada yang
butuh?”
Gio menjulurkan tangan. “Aku. Ponselnya saja.”
Setelah meletakkan piring, Gio melangkah menjauh dari
rombongannya. Memencet sederet nomor di kotak penerima,
29
kemudian mengetik: Aku pergi sehari lagi. Eu te amo e Pai. Gio.
Gio membaca potongan-potongan kata itu bolak-balik.
Hanya inikah? Hanya bisa seginikah? Hatinya tercabik-cabik
saat menekan tombol kirim. Tidak akan ada kalimat dan layar
gawai yang mampu memuat kesedihannya, penyesalannya,
29 Aku mencintaimu dan Ayah (bahasa Portugis).
537

