Page 553 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 553

Keping 85


           sekaligus pengharapannya yang bercampur aduk jadi satu
           detik itu.  Tangannya meremas kuat batang ponsel demi
           mengompensasi luapan perasaan yang menekan hingga ke

           tulang. Wajah orang-orang terdekatnya muncul satu per satu.
           Jia, Antonio, Paulo, Chaska, dan… napas Gio tertahan. Paul.
             Gio bergegas kembali ke rombongannya. “Ton, aku butuh
           teleponnya.”
             “Lagi dipakai Alfa.”  Toni mendongakkan dagunya,
           menunjuk ke arah Alfa yang berdiri menghadap tembok
           dengan telepon tertempel di kuping.
             Gio mendekati Zarah, menyodorkan ponsel. “Kamu harus
           kontak Hara. Dia pasti tunggu kabar dari kamu.”

             Zarah menerima ponsel itu dengan ragu. Ia tahu Gio benar.
           Namun, sulit baginya untuk mengontak Hara tanpa teringat
           apa yang terjadi semalam.
             Zarah memunggungi teman-temannya, mengetik cepat:
           Kakak & Gio baik-baik. Kami harus pergi sebentar. Besok Kakak
           hubungi lagi. Salam buat Ibu & Pak Ridwan. Tanpa jeda, Zarah
           langsung memencet tombol kirim, kemudian menyerahkan
           ponsel  itu  kembali  kepada  Gio.  “Sudah,”  ucapnya  ringkas.
           Zarah bangkit dan pergi ke arah meja prasmanan, mengambil
           segelas air meski tak haus.







           Kaki  Alfa  bergoyang-goyang.  Sesungguhnya  pagi  adalah
           waktu  yang  tepat  untuk  menelepon  ke  rumah.  Keluarganya


           538
   548   549   550   551   552   553   554   555   556   557   558