Page 696 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 696

IntelIgensI embun PagI

              Gio menghela napas. Ibunya akan memanfaatkan celah
           bahasa demi kesenangan pribadi.

              Hati  Zarah  menciut.  Dengan  sikap  berwibawa,  Antonio
           menatapnya tajam. Sepintas, Zarah bisa melihat bahwa dari
           pria Brazil itulah garis-garis wajah Gio terbentuk. Rahang
           kuat, dagu membelah, mata cokelat bernaung alis lebat.
           Bedanya,  Antonio  memelihara  cambang  dan kumis  yang

           mulai memutih.
                        47
              “Bom dia,”  sapa Zarah.
              Wajah Antonio seketika berubah. Gigi putihnya berderet
           terbingkai senyum lebar. Bola matanya bersinar hangat. “Bom
           dia! Você fala Português?”  48
              Zarah menggeleng cepat sebelum Antonio mencerocos
           lebih lanjut. “Oh, nggak, nggak. Saya cuma bisa ‘bom dia’. Gio
           yang ajari. Barusan di mobil.”

              “Ah. Tidak apa-apa. Saya bisa bahasa Indonesia. Istri saya
           yang ajari.” Antonio menepuk bahu Zarah sambil tertawa
           lebar. Antonio menggeser kursi makan untuk Zarah. “Silakan
           duduk.”
              Begitu mendarat di kursi, Zarah langsung mengenali

           batang-batang mawar yang berkumpul di sebuah vas ramping
           di meja makan beralas serbaputih itu.
              “Lima. Tanda cinta,” kata Jia berseri-seri.
              “Mama!” protes Gio.

           47   Sapaan umum pada saat bersua (bahasa Portugis).
           48   Kamu bisa bicara bahasa Portugis? (bahasa Portugis).


                                                                 681
   691   692   693   694   695   696   697   698   699   700   701