Page 692 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 692

IntelIgensI embun PagI

           berbeda, Zarah. Sejak kamu kecil, Ibu tahu itu. Ibu cuma takut
           kehilangan kamu.”

              Ucapan Aisyah menancap telak. Zarah pun kelu.  Tidak.
           Tidak begitu. Ibunya sudah melakukan yang terbaik yang ia
           bisa, sejauh yang ia paham.
              “Jadi, Ibu nggak akan menghalang-halangimu, menuntutmu
           ini-itu. Kamu mengurus dirimu sendiri sejak kecil. Kamu

           selalu tahu apa yang terbaik buatmu,” ucap Aisyah. “Ibu sedih
           waktu kamu ke Kalimantan, tapi Ibu senang kamu menang
           lomba itu. Ibu senang lihat foto-foto kamu. Bakatmu terlalu
           besar untuk dipendam.”
              Air muka Zarah berangsur berubah. Satu tanda tanya besar
           yang menggantung bertahun-tahun mengetuk benaknya lagi.
           Foto pertamanya yang menang lomba. Foto yang menjadi
           tiketnya  pergi  jauh  dari  rumah  hingga  ia bisa mengelilingi

           dunia.  Kunci rumah. Selain dirinya, hanya ibunyalah yang
           menyimpan kunci rumah Batu Luhur, tempat tinggalnya sejak
           memiliki kamera hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas.
           “Ibu... yang kirim foto itu?”
              Aisyah menolehkan wajahnya menatap Zarah. “Ibu pengin

           berbuat sesuatu juga buat kamu, Zarah. Jangan cuma Firas.
           Ibu juga ingin.”
              Tubuh Aisyah berguncang oleh pelukan Zarah yang
           menghambur.
              Di dalam dekapan Zarah, Aisyah tidak bisa lagi berbicara
           apa-apa. Begitu juga Zarah. Hanya napas mereka berdua yang



                                                                 677
   687   688   689   690   691   692   693   694   695   696   697