Page 693 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 693

Keping 98


           berangsur selaras, naik dan turun bersama. Dalam absennya

           kata,  ia dan  Zarah justru lebih  dimampukan untuk  saling
           memahami.
             Sedan biru metalik tiba di depan rumah mereka, kemudian
           berhenti di depan pagar yang dilapis semak kembang sepatu.

             “Gio datang,” bisik Aisyah. Ia melepaskan pelukannya,
           menatap anak sulungnya.“Kamu cantik,” bisiknya lagi.
             Zarah menggeleng pelan meski senyumnya mengembang.
           “Aku bukakan pagar dulu ya, Bu,” katanya.
             Aisyah hanya bisa mengangguk. Kehadiran Gio
           menerbitkan matahari dalam mata Zarah dan membuat

           Aisyah terkesima. Keindahan yang hanya bisa ia pendam
           sendirian. Aisyah yakin Zarah lagi-lagi tidak akan merasa dan
           tidak akan percaya. Zarah selalu menjadi orang terakhir yang
           menyadari pesonanya sendiri.







           Meja makan berlapis taplak yang terbuat dari renda putih itu
           sudah tertata rapi dengan empat alas makan, empat set piring,

           dan perkakas makan. Di tengah meja Jia sengaja menempatkan
           vas kecil berisi beberapa tangkai bunga  mawar. Lima. Lima
           adalah simbol cinta, rapalnya dalam hati waktu menata meja.
           Setengah berdoa, setengah berharap. Jia tak ingat kapan ia

           pernah segelisah ini.



           678
   688   689   690   691   692   693   694   695   696   697   698