Page 697 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 697

Keping 98


             Antusiasme Jia tidak bisa dibendung. “Waktu dia mau ke
           rumahmu, aku suruh dia bawa mawar. Lima. Ternyata, manjur.

           Kami bahagia sekali melihatmu hari ini, Zarah,” berondong
           Jia seraya meremas tangan Zarah.
             “Kami sempat mengira Gio cuma bisa pacaran sama
           dayung. Atau sama Paulo,” Antonio menimpali.
             Tawa Zarah pecah. Sementara, Gio yang sudah kehilangan

           kata-kata akhirnya membiarkan ibu dan ayahnya beraksi
           sesuka mereka.
             Sambil ikut menimbrungi berbagai percakapan di tengah
           santap siang yang disiapkan seharian oleh Jia, dalam benaknya
           Gio terlempar menjadi saksi yang hadir di sana hanya untuk
           merekam apa yang ia lihat. Ibunya yang terlihat begitu bahagia
           dan bersemangat. Ayahnya yang terlihat menikmati adanya
           tambahan penonton untuk berbagai tabungan leluconnya.

           Zarah dan kedua orangtuanya bercengkerama dan tertawa.
             Setiap detik yang berjalan terasa semakin indah karena Gio
           sadar bahwa siang ini bisa jadi adalah momen kebersamaan
           mereka yang pertama dan terakhir. Meja makan bundar
           dengan lima tangkai mawar di tengah-tengah, dikelilingi

           tiga orang paling berarti dalam hidupnya. Gio merekam dan
           menyimpan semua itu baik-baik.











           682
   692   693   694   695   696   697   698   699   700   701   702