Page 123 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 123
KEPING 9
“Mau dibuat enak sama Mas?” rayu Arwin. Biasanya ra-
yu an itu selalu berhasil. Dan, malam ini ia harus ber hasil.
Sudah lama sekali ia tidak....
Hanya tembok dan langit-langit yang tahu, bagaimana
Rana meringis dan mengernyit jengah. Dalam titik kepas-
rah annya, Rana berteriak sunyi. Re, tolong aku. Aku diper kosa.
Dimas & Reuben
“Apa kabar Kesatria dan Putri kita?” Reuben menepuk bahu
Dimas yang masih tekun mengetik.
“Malang. Tambah malang.”
“Seberapa malang?”
“Kamu bisa bayangkan apa rasanya ketika statusmu
bagaikan penjara dan tempat tidurmu adalah neraka?”
“Mendadak surgamu jadi supersimpel. Cukup satu ‘halo’ di
telepon, atau satu ‘hai’ di tengah keramaian,” Reuben ter kekeh.
Tiba-tiba Dimas berhenti mengetik, memutar duduk nya,
dan memandang Reuben. “Menuliskan kisah orang-orang ini
membuatku sadar, ternyata aku sangat berun tung,” ucapnya
sungguh-sungguh, “kamu membuatku merasa bangga de ngan
diriku sendiri, Reuben. Kamu memberikan hubungan ini
suatu visi. Dan, kita nggak lari dari kenyataan. Kita juga
bukan pasangan gay umbar libido seperti yang orang banyak
kira. Kita adalah sahabat terbaik. Partner hidup.”
112

