Page 121 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 121
KEPING 9
Baginya, gejolak 24 jam itu adalah kemajuan. Bagi Alé, itu
dekadensi besar, dan sudah kenyang Re dimakinya. Pembu-
ang an waktu seperti ini juga akan jadi bahan omel an empuk.
Re melirik jam. Gemas.
Ayo, Putri, cambuklah kuda waktuku, agar ia sedikit berlari,
dan berarti.
Mendadak ia tercenung. Mungkin memang begini ini
adanya. Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang
utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke
lorong panjang pengorbanan.
Kini ia mengerti. Bahkan, reputasi emasnya, karier pla ti-
numnya, tidak ada yang punya arti pada saat seperti ini.
Dengan tak berdaya kesemuanya itu berlutut di hadapan
mah ligai agung sebuah hipercandu bernama cinta. Mem buat
dirinya terasa sangat remeh. Tak berarti.
Rana
Arwin hafal benar siklusnya, dan Rana sangat menyesali hal
itu. Ia sudah mencoba berbagai cara, dari mulai pura-pura
ti dur sampai mengaku keputihan. Dan, kini ia ke habisan akal.
Ia sadar, semakin lama ini berjalan, ia malah menjadi kan
suaminya singa kelaparan yang siap menyerang begitu ada
ke sempatan. Yang lebih penting lagi, semua ini akan me-
nimbulkan kecurigaan. Apalagi dengan program yang sudah
110

