Page 118 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 118

Cinta tidak Butuh tali

           Memasuki roti lapis memori nan lezat. Ini dia kendaraan nya.
           Pensil kayu pemberian Rana. Tak pernah lepas dari kantong.
              Diam-diam tangan kirinya mencoretkan garis-garis di

           se lembar kertas. Hampir dua menit sekali.

                     Karena ini ia dinamakan si jantung hati.
                  Memompa lembut seperti angin memijat langit.
                  Berdenyut lincah seperti buih yang terus berkelit.
                         Dan, darah cinta adalah udara,
                 Dengan roh rindu yang menumpang lewat di dada.

              Orang-orang di sekitarnya mulai sadar. Bos mereka bo-

           lak-balik menghela napas. Persis sedang senam waitan kung.





           Kembali melandas pada Minggu. Puncak segala siksa. Di
           kantor, ia selalu melamunkan hari ini, tapi pada hari ini pula
           lamunannya selalu mentok ke jalan buntu. Gawat nya, se ka-

           rang tidak ada pekerjaan untuk mendistraksi.
              Sedan  perak di rumah seberangnya sudah  pulang lagi,
           membuatnya tersadar seharian ini ia tidak keluar rumah sa-
           ma sekali. Komik  Kariage Kun yang jadi pelariannya juga
           sudah tidak lucu lagi. Benar-benar cuma satu yang meng-
           gugah minat. Telepon. Deringannya atau kesempatan me ne-
           lepon. Asal dan tujuan benar-benar spesifik: Rana.


             Telepati itu bualan, umpatnya, makanya Alexander Graham
                       Bell ditakdirkan jadi penemu telepon.

                                                                 107
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123