Page 122 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 122
Cinta tidak Butuh tali
mereka sepakati, punya anak tahun ini. Sudah se wajarnya
kegiatan tersebut justru diintensifkan.
Rana benar-benar tersiksa.
Arwin keluar dari pintu kamar mandi, siap berbaring.
Rana menatap suaminya. Ia kenal betul ekspresi itu. Apa
maunya. Dan, seperti kucing basah kuyup, Rana ma kin me-
ringkuk di sisi kiri tempat tidur.
“Kamu sudah nggak minum pil KB lagi, kan, Sa yang?”
“Nggak, Mas.” Rana menelan ludah. Setiap hari. Mi cro -
gy non lebih penting daripada makan siang. Tak pernah lewat.
Tak akan kubiarkan diriku alpa.
Lampu dipadamkan.
Rana balik badan seketika. Menguap berkali-kali. De-
monstratif. Ia lalu memejamkan mata kuat-kuat, dan me na-
jamkan telinga penuh siaga. Setiap bunyi gemeresik seprai
membuat jantungnya berdegup kencang.
Perlahan, ia mulai merasakannya, tangan Arwin yang
me rang kulnya dari belakang. Napas hangatnya yang me niupi
teng kuk. Sapuan-sapuan penuh maksud yang mem belai ku-
litnya.
“Rana,” Arwin berbisik, “kok, tangan kamu dingin ka yak
es?”
“Masa, sih?” gugup Rana menjawab, suaranya bergetar.
“Kamu sehat-sehat, kan, Sayang?”
“Agak nggak enak badan, Mas. Mungkin masuk angin.”
Jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon.
111

