Page 120 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 120

Cinta tidak Butuh tali

           se kali bandot nggak pernah gede di usianya yang ke-50 se-
           kian. But sorry, not me.”

              Tiba-tiba ponsel Re berbunyi lagi.
              “Halo,” ujarnya ragu-ragu.
              “Hai!” Suara energik dan penuh vitalitas itu lagi, me nya-
           panya dengan keceriaan murni. Refleks, Re melangkah men-
           jauh sambil meneruskan percakapan.

              Alé tersenyum sendiri. Lima menit kemudian, sahabat nya
           kembali berjalan mendekat.
              “Rana lagi?”
              “Ya,” jawab Re pendek.
              “Kamu benar-benar suka sama dia.”
              “Jangan asal.”
              Makanan mereka datang.
              “Re,” panggil Alé di antara kunyahannya, “penerangan di

           sini remang-remang. Apalagi di tempat kamu berdiri tadi.
           Tapi, saking bersinarnya mukamu, semua orang di sini sam-
           pai silau.”
              “Ngaco,”  gerutu Re pelan. Kepalanya makin merunduk
           men dekati piring.

            Semua orang menyimpan sebongkah matahari dalam dirinya.

                      Ada yang terbit dan ada yang terbenam.
                 Matahariku bersinar nonstop dua puluh empat jam.
                     Masih adakah cucian yang belum kering?
                     Adakah sampah yang ingin kalian bakar?
                          Mari, dekatkan pada wajahku.


                                                                 109
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125