Page 142 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 142

Si Pencinta alam

              “Memangnya kapan aku pernah sedih?”
              “Ah, ya. Kamu pasti masih matahari yang dulu. Minha sol
                 16
           bonita. ” Gio mengecup keningnya penuh kesung guhan.
              Gio seorang peranakan Tionghoa-Portugal, ganteng bu-
           kan main. Ia telah lama pindah dari Jakarta ke Rio de
           Janeiro, dan kini baru saja pulang dari Pegunungan Andes.
           Kulitnya masih menyala. Tubuhnya tampak semakin tegap.

              “Kamu mau makan malam dulu?” tanya Diva, “Tapi, jujur
           saja, buat aku, kamu lebih appealing dari makanan apa pun
           malam ini.”
              “Keluar dari mulut seorang Diva, aku anggap itu pujian
           besar.”
              “Atau gara-gara kita cuma ketemu setahun sekali, ya?
           Kalau kamu masih nongkrong di Jakarta seperti dulu, se-
           karang ini aku pasti memilih makan malam sendirian.”

              Gio tergelak. “Nah, kan? Kamu memang tidak mung kin
           berubah.”
                    17
              “Então ...”  Diva melingkarkan tangannya di pinggang
           Gio, menjatuhkan berat tubuhnya hingga mereka berdua
           terdo rong ke tembok, “makan malam? Atau makan aku?”

              “Bisa dua-duanya?”
              Mereka berciuman lagi. Lebih lama, lebih dalam. Diva
           me nikmati setiap detik, mengingat ia hampir tak pernah




           16
              Matahariku yang cantik.
           17
              Jadi....
                                                                 131
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147