Page 144 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 144

Si Pencinta alam

              Reuben membaca lebih saksama. “Rupanya kamu ingin
           me nyajikan sisi lain dari Bintang Jatuh. Ternyata, dia tidak

           melulu pahit. Dia masih punya emosi, passion, blablabla. Lalu?”
              “Tokoh itu. S-si Pencinta Alam! Aku ingin terus meng-
           hidupkannya, tapi, ehm, nggak perlu, ya?” tanya Dimas
           malu-malu.
              Reuben bingung, antara menahan geli dan gusar. “De-

           ngan sangat menyesal, jawabannya tidak.”
              “Tapi, aku nggak tega melenyapkannya begitu saja.”
              “Kita, kan, baru saja membahas kalau cinta mentran-
           sendensi ruang dan waktu. Jadi, sebaiknya kita juga tidak
           terpancing emosi, berkubang dalam romantisme berkepan-
           jangan.”
              “Sedikiiit... saja. Ceritanya dia datang setelah berkelana
           dari mana, kek, lalu untuk kali terakhir berusaha memi nang

           Bintang Jatuh, cinta sejatinya.”
              “Pemborosan tinta.”
              “Payah! Nggak romantis!”
              “Romantisme itu cuma metafora, dan metafora adalah
           saput yang melapisi inti kebenaran.”

              “Tidak setuju! Romantisme itu aspek penting dari cinta.”
              “Cinta yang mana dulu?”
              “Kamu nggak merasa Tuhan itu romantis, apa?”
              “Kok, Tuhan contohnya? Tuhan, ya, Mahasegalanya. Je las,
           Dia Maharomantis juga,” protes Reuben.
              “That’s my point.” ■



                                                                 133
   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149