Page 158 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 158

Tuhan Maha Tidak RoManTis

           lutnya. Berkumur-kumur amat keras. Aku tak mau mende ngar
           apa-apa. Dibersihkannya percik-percik busa di kaca, di ping-
           giran wastafel, dan mendadak ia merasa sangat bodoh. Putri,

           benakku siap memaki lagi.
              Re menghidupkan semua keran air. Dari pancuran sampai
           kloset. Suara kucuran air  membahana  di ruang  ke cil  itu.
           Namun, ia tahu, dibutuhkan gemuruh air yang lebih besar
           untuk membungkam suaranya sendiri.




           Dimas & Reuben


           Reuben masih tidak mau kalah. “Tapi, kalau Tuhan Maha-

           segalanya, berarti Tuhan juga Maha Tidak Romantis.”
              “Oke, oke. Titik tengah: romantisme hanya bentuk eks-
           presi,” sahut Dimas.
              “Setuju,” Reuben mengacungkan jempolnya. “Aku se lalu
           merasa cinta itu dipromosikan dengan salah. Satu item de-
           ngan setumpuk katalog yang berbeda. Mubazir. Yang ada
           malah orang-orang miskonsepsi tentang apa itu cinta.”
              Dimas jadi merenung. “Iya, ya. Ada cinta pacar, cinta
           orangtua, cinta Tanah Air—”
              “Eros, Philia, Agape, Storge—”
              “Kalau semua itu kita rangkum, berarti cinta itu apa?”
              “Tahan dulu!” Reuben sontak duduk tegak. “Jangan sam-

           pai kita terjebak membuat prakonklusi dari data yang nggak
           lengkap.”


                                                                 147
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163