Page 162 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 162

SebeSar Cinta itu Sendiri

              “Justru aku ingin kasih lihat kalau kita berteman. Se mua
           orang juga sudah tahu itu. Jadi, kamu nggak usah paranoid
           gitu, dong,” bujuk Rana lagi.

              “Aku bukannya paranoid.”
              “Kalau kamu canggung, ajak saja Alé.”
              “Bukan  itu  masalahnya.”  Kali  ini,  Re  spontan  tertawa.
           Alé bisa mengikatnya ke tiang listrik kalau tahu ia akan
           pergi ke rumah Rana.
              “Kamu ini, jangankan masuk, mengantarkanku pulang ke
           rumah  saja  nggak  pernah  mau.  Padahal,  aku,  kan,  tahu
           tempat tinggal kamu. Apa salahnya kamu juga tahu tempat
           tinggalku sehari-hari itu kayak apa?” Rana merajuk manja.
              “Nggak bisa kamu samakan, Putri,” sergahnya halus.
              “Apanya yang nggak bisa?”
              “Kadang-kadang kamu memang terlalu naif.”

              “Datang, ya?”
              Re diam.
              “Please?”
              “Aku usahakan. Nggak janji, tapi aku usahakan.”






           Di jalan itu, ada sebuah mobil yang berhenti dengan aneh.
           Selain posisi berhentinya yang serampangan—antara mau
           belok atau tidak—mobil itu pun sudah berhenti di sana lebih
           dari setengah jam.





                                                                 151
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167