Page 157 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 157

KEPING 13


           ia punya saudara sepupu yang harus dikunjungi dan akan
           meng inap di sana. Demi satu kebersamaan. Demi satu ke-

           sem patan  menyambut kekasihnya  pulang kerja, me nyak si-
           kannya sikat gigi sebelum tidur.







           “Kamu cakep kalau lagi sikat gigi.”
             Busa putih di mulut Re muncrat keluar. “Apa?” serunya
           setengah tertawa, dengan suara kumur-kumur. “Rana, itu
           sangat orisinal! Kamu cari di seluruh pelosok bumi, nggak
           akan ada lagi yang ngomong gitu ke aku.”
             Rana tergelak-gelak. “Kamu ngomong apa, sih? Nggak

           jelas. Tapi, kamu makin-makin cakep.” Tiba-tiba terdengar
           ponselnya kembali berdering. “Sebentar, ya, paling-paling
           Gita,” ujarnya sambil berlari kecil.
             Re masih tertawa-tawa. Busa odolnya sudah berpencar ke
           mana-mana.
             “Oh, no.” Terdengar keluh Rana. “Halo? Ya, aku baru mau

           pergi. Cari makan. Ya, rame-rame. Kamu belum di rumah,
           Mas?” Rana berjalan menjauh.
             Tawa Re langsung punah. Dengan penuh kesadaran,
           pelan-pelan ditutupnya pintu kamar mandi itu. Dua kali
           dalam satu malam. Ini sudah seperti minum racun yang
           dijadwal.
             Keran air langsung dihidupkan, ia pun membasuh mu-



           146
   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162