Page 156 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 156
Tuhan Maha Tidak RoManTis
Re menghela napas. Masih terdengar jelas, Putri. Dan,
kenapa aku ditempatkan di hotel dengan kamar berkonsep “back
to nature” sehingga tidak ada televisi di sini?
Dengan gelisah, Re menyebarkan pandangan, mencari-
cari perangkat apa yang kira-kira bisa berbunyi dan me nutup
gema-gema dari kamar mandi itu. Nihil.
Suara Rana yang tertawa. Suara Rana yang menasihati.
Suara Rana yang menyimak. Rasanya ia mau merelakan se-
mua miliknya. Se-mua. Demi sepasang penyumbat te linga
nomor satu di dunia, yang mampu memblokir suara apa saja,
dari mulai suara biasa, suara infrasonik, ultra sonik, sampai
suara hatinya sendiri.
Putri, aku ingin sekali tuli.
Sekawanan samurai terbuat dari huruf datang menyerang.
Mencacah harga diriku seperti daging cincang.
Mereka menghinaku karena aku cuma bisa diam.
Mereka menyumpahiku karena aku rela diabaikan.
Setelah sekian lama, pintu kamar mandi itu terbuka.
Tepat waktu. Sebentar lagi Re sudah mau memotong ku-
pingnya.
Sekalipun wajah itu tampak dingin tak terpengaruh,
Rana dengan tahu diri berusaha menebus “kesalahan”-nya.
Mereka berjanji ketemu lagi malam ini. Dengan berbagai
alasan, Rana berbohong kepada rekan-rekannya. Mendadak
145

