Page 154 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 154

Tuhan Maha Tidak RoManTis

              “Aku  usahakan  setengah  jam.  Paling  lama  45  menit.
           Gimana?”

              “Aku cuma punya waktu sampai pukul enam.” Re sete-
           ngah mengingatkan, setengah memaksa.
              “Aku  usahakan,”  ulang  Rana  dengan  nada  ditekan.  Ini
           tidak adil kalau saja ia boleh  complain. Seringnya, ia yang
           bermain  sirkus  dengan  waktu,  berhubung  jadwal  Re  yang

           padat gizi itu sulit sekali diajak kompromi. Mungkin kita tak
           perlu bertemu.
              “I’ll see you, Princess.”
              “Re....”
              “Ya?”
              “Jangan jemput aku di sana lagi. Ternyata, itu tempat
           teman-teman lamanya Arwin nongkrong. Kalau mau, di pe-
           lataran belakang saja.”

              “Oh,” jawab Re, enggan. Mungkin kita tak perlu ber temu.
              Kebimbangan itu bergolak perlahan di bawah per mukaan.
           Sepertinya ada yang salah. Kenapa juga harus selalu terbirit-
           birit? Mengapa tidak bisa membiarkan satu kesempatan lewat
           begitu saja dengan santai? Mengapa me reka bertingkah

           seperti pialang di bursa saham? Haruskah demikian?













                                                                 143
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159