Page 165 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 165

KEPING 14


             “Artikelnya sudah berbulan-bulan yang lalu dimuat. Aku
           baru melihat mereka berduaan tiga hari yang lalu. Sebe lum-

           nya lagi di Shangri-La, Senin minggu kemarin. Desi juga
           bilang dia melihat Rana di Bandung, makan malam di Chedi
           bersama pria yang ciri-cirinya persis sama dengan Ferre.”
             “Tapi, Rana pasti hanya berteman baik dengan orang itu.
           Aku yakin. Kamu juga kenal Rana. Mana mungkin, sih?”

           Muka Arwin ditegar-tegarkan.
             Lagi-lagi, temannya tahu itu. Tapi, ia tak mau mem buat
           Arwin lebih terbanting. “Ya, mungkin mereka me mang cu ma
           ber teman,” ia mengangguk-angguk, “maaf kalau aku terlalu
           curiga dan membuatmu malah nggak enak. Aku cuma ke-
           pikiran.”
             Rasanya Arwin ingin membabi buta lari ke atap ge dung
           dan menjatuhkan diri.




           Dimas & Reuben


           Persis seperti nonton film laga, keduanya tampak tegang
           menonton salah satu adegan puncak.
             “Kenapa juga harus dibikin ketahuan?” komentar Reuben
           gemas.
             “Ya, harus. Kalau nggak, seluruh cerita ini berlalu begitu

           saja tanpa pelajaran untuk semua orang. Semua harus ke-
           bagian. Tapi, kira-kira apa yang bakal dia lakukan, ya? Laki-
           laki malang. Dia sangat mencintai istrinya.”


           154
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170