Page 167 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 167

KEPING 14


             Mendengarnya, Re tertohok. Telepon kekasih sebelum
           tidur. Betapa mahal dan kompleksnya kesempatan itu. Harus

           menunggu satu ajang akbar dan persetujuan rapat redaksi.
           Harga dirinya kembali tergigit. Kepahitan pun merambat
           naik seperti bisa ular.

           [Ini  keterlaluan!  Mengapa  harus
           begini?  Mengapa  harus  kamu,
           Rana? Mengapa harus aku? Meng-

           a pa perasaan ini? Perasaan sesat!
           Irasional! Racun!]

             Re setengah mati menekan kata-kata itu untuk tidak
           keluar. Kata-kata yang selalu bermunculan, tapi ia ben dung
           hanya karena tidak mau Rana sakit hati. Bukankah ia sudah
           cukup menderita?


                                    [Ya. “Menderita”.  Dia punya se-
                                    mua nya. Seorang suami yang ha rus
                                    di per tahankan demi stabilitas sta tus
                                    so sial, dan seorang kekasih ge lap
                                    yang mencintainya setengah mam-
                                    pus.]


           [Sepasang sepatu mentereng yang
           sakit kalau  dipakai  dan sepasang
           sepatu tua nyaman yang setia.]





           156
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172