Page 166 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 166
SebeSar Cinta itu Sendiri
“Well, semua peristiwa hanyalah semata-mata peristiwa,
tapi cara kita menyikapinyalah yang memberi label, kan?
Entah itu diberi judul tragedi atau keberuntungan. Dia bisa
melihat dirinya sebagai korban atau sebaliknya. Se moga saja
dia sadar kalau dia sedang berpijak di semesta yang ser ba-
relatif.”
“Label apa yang dia pilih kira-kira?” tanya Dimas lagi.
Jemarinya mematung di atas tuts keyboard. Bersiap-siap.
Ferre
Rana sedang keluar meliput. Maka terciptalah percakapan
itu, yang cukup sepuluh menit, tapi bisa mengantar Re tidur
tersenyum sampai pagi.
“How’s it going, dear? Kamu senang-senang, dong, bisa
ketemu banyak artis,” Re mengolok.
“Jangan mengejek. Kamu tahu aku paling malas di suruh
meliput ajang anugerah semacam ini, tapi sekarang memang
lain cerita.”
“Oh, ya? Berhasil bertemu dengan seseorang yang me-
narik? Among a bunch of airheads?” Re tambah mengolok.
“Kalau soal itu, sih, jawabannya pasti ‘tidak’,” Rana ter-
tawa manja, “tapi di acara seperti ini aku, kan, bisa santai,
jadi penonton, bisa telepon kamu.”
155

