Page 164 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 164
SebeSar Cinta itu Sendiri
Sel ini terus bertambah dan merambah.
Mereka hidup melingkari kita, semenjak kita saling mencinta.
Suka tak suka.
Ia cuma bisa berharap Rana mau mengerti.
Arwin
Grafika berwarna ceria menghiasi setiap bidang dinding kafe
itu. Namun, semuanya menjadi suram apabila disan dingkan
dengan aura kelam yang menyorot dari batin Arwin.
Temannya tahu itu, dan ia turut prihatin. Tapi, tidak ada
jalan lain. “Ini bukan kali pertama aku lihat mereka. Win,
tanpa bermaksud mengambil kesimpulan apa-apa, ada baik-
nya kamu cek lagi kegiatan-kegiatan istrimu.”
Segalanya memang menjadi jelas. Rana yang menjadi
pendiam, dingin, dan mengambil jarak. Kegiatannya yang
se abrek. Selalu menghindari acara keluarga. Rana yang pela-
mun, pemurung, dan muram. Dan, yang satu itu, ke biasaan
menangis diam-diam. Tangisan lirih yang seperti sayatan
silet. Lebih-lebih sehabis mereka bercinta.
“Aku tahu siapa dia. Namanya Ferre. Sepupuku teman
seangkatannya di Berkeley dulu.”
Arwin menghela napas, berat. “Tapi, Rana memang per-
nah bilang, kok. Dia sedang membuat profil tentang orang
itu,” ucapnya dengan nada sewajar mungkin.
153

