Page 168 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 168

SebeSar Cinta itu Sendiri

                                     [Kabarmu sendiri bagaimana, Se-
                                     patu Tua? Senangkah kau di sana?

                                     Di gudang gelap yang ha nya di-
                                     buka sekali-sekali, dan dili hat ka lau
                                     ada kesempatan?]

              Re tak tahu cara menyarungkan pedang-pedang tajam itu.
           Teroris-teroris dalam otaknya.
              Sementara Rana masih terus berbicara dengan suara ceria,

           “Dan, tahu nggak? Tadi semua orang menyangka aku se dang
           bicara  dengan  Arwin  di  telepon.  Mereka  yakin  ba nget  itu
           dia, saking suaraku terlalu mesra, katanya.” Ter dengar gelak
           tawa Rana yang renyah.

                            Ajarkan aku menjadi naif.
                      Senaif dirimu yang masih bisa tertawa.
                      Senaif kebahagiaan di alam kita berdua.

             Karena setiap detik di kala kenyataan mulai bersinggungan,
                   aku rasakan sakit yang nyaris tak tertahankan.
                        Atau ajarkan aku menjadi penipu,
              apabila ternyata kau merasakan sakit itu dalam tawamu.

              “Itu nggak lucu, Putri,” balas Re dingin.
              Tawa  Rana  membeku seketika.  “Re, aku ingin  sekali

           teriak kalau itu kamu. Dan, bukan Arwin. Itu kamu....” Su-
           aranya kian mengecil. Dan, kata “kamu” masih terus ber-
           sambung di dalam hatinya.




                                                                 157
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173