Page 169 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 169
KEPING 14
Re sendiri cuma bisa diam. Menyesali betapa banyak ke-
terbatasan yang ia miliki. Takdir, nasib, suratan. Ia ter amat
geram.
Aku letih, Putri.
Malam itu, Re batal tidur sambil tersenyum. Malah ter-
jaga dalam kamar kerja, menghadapi carikan-carikan kertas-
nya. Berusaha memunguti lagi cintanya yang beran takan.
Mencoba merasakan kembali puncak-puncak ka yangannya
dengan Rana. Dan, terhibur sendiri dengan ketabahannya
yang tak masuk akal.
Re, dalam simulakrum, benteng terakhirnya dalam per-
tempuran batin ini.
Arwin
Pelataran hotel. Setengah dua siang.
Kedua manusia itu, berhadap-hadapan, terfokus habis se-
olah-olah tidak ada yang lain di mata mereka. Dalam sega-
la ketersendatan akibat takut ketahuan, mereka justru keli-
hatan menonjol. Mereka tak sadar itu. Tentu saja, ba gaimana
bisa mereka sadar? Mereka begitu saling mencintai. Tergila-gila.
Di dalam mobilnya, Arwin pun tafakur. Memandang ko-
song ke satu titik. Sementara pikirannya bagaikan spek trum
konvergen, dalam pancaran hampa berusaha meng gapai-
158

