Page 170 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 170
SebeSar Cinta itu Sendiri
gapai sebuah kesimpulan, sebuah solusi, sebuah tindakan.
Tidak ada yang tergapai. Ia tetap dirinya yang dulu.
Siapa pun dapat melihat apa yang ia lihat. Manis wajah
berbunga-bunga istrinya bagai insulin yang terdongkrak
dalam darah, dan Arwin rasanya terserang diabetes melihat
Rana. Ia begitu... bahagia.
Tak ada kebencian yang bisa ia keruk dari dalam hati nya
untuk Rana. Tidak juga untuk pria itu. Yang ada ha nyalah
kebencian kepada dirinya sendiri.
Ya, aku memang tidak pernah pantas memilikinya. Ber tahun-
tahun aku tahu itu, tapi aku diam saja. Egois. Tidak pernah
satu detik pun aku mampu membuat Rana bersinar bahagia
seperti itu. Aku pikir aku telah seluruhnya men cintai padahal aku
hanyalah batu penghalang bagi kebaha giaannya. Maafkan aku,
Rana. Hanya sebeginilah kemam puanku. Andaikan aku bisa ber-
buat lebih.
Dimas & Reuben
“Menakjubkan,” Reuben mendesah, “aku sama sekali tidak
menyangka dia akan berpikir begitu.”
“Dia teramat mencintai istrinya. Cinta yang sampai di
titik tertentu akan mengaburkan ego. Kebahagiaan istrinya
berarti kebahagiaannya. Begitu pun dengan kesengsaraan.”
“Dan, dia mengambil tanggung jawab di sana.”
159

