Page 173 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 173
KEPING 15
Terakhir, sebelum pulang, ia akan ke kios-kios tanaman
di pinggir jalan. Diva sudah kenal beberapa penjual yang
mengizinkannya duduk di balai-balai kecil mereka. Ter ka-
dang ia membawa pulang satu polybag tanaman atau bebera-
pa bungkus pupuk, malah kadang-kadang tidak membawa
apa-apa sama sekali. Ia hanya ingin ada di sana. Meman-
dangi. Tersenyum sendirian.
Hari ini, sesudah sarapan, Diva pun bersiap me lakukan
rangkaian ritualnya. Sambil mereguk susu hangat, ia me-
man dang ke luar jendela. Menikmati pagi harinya yang sepi.
Jauh dari kegaduhan pusat kota.
Tiba-tiba dari rumah seberang, tampak seorang lelaki
keluar. Diva mencibir. Baru pukul setengah sembilan, tapi
ponselnya sudah menempel di kuping. Mulutnya komat-
kamit cepat seperti membaca jampi-jampi. Di kerah ke me a-
j
nya, sebuah dasi tergantung menunggu untuk disim pul.
Ce lananya rapi dengan garis setrika lurus seperti se utas tali.
Tas kan tor nya terbuat dari kulit berwarna hitam, yang kalau
dilihat dari puncak gunung sekalipun, mahal nya tetap ke-
lihatan.
Ia kenal betul tipe itu. Tipe orang-orang yang memberi
julukan kepada bosnya—si China Gembrot, si Bule Gen-
deng, si Jepang Bawel—tertawa-tawa akan hal itu ketika jam
makan siang, dan kembali merunduk-runduk seperti ayam
men cari cacing ketika kembali ke kantor. Tipe orang-orang
yang ia temui hampir setiap malam.
162

