Page 218 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 218
Tsunami HaTi
“Hell with it.” Re pun menutup flip ponselnya dengan
kasar. Kondisi. Kondisi. Lagi-lagi si Keparat satu itu.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Alé.
Berusaha sekuat tenaga untuk menyuntikkan logika ke da-
lam pikiran sahabatnya. Re juga sudah letih, kali ini ia lebih
banyak diam. Dibiarkannya Alé terus mengoceh.
“Jadi, kamu setuju untuk pulang sekarang, kan?”
“Nggak yakin.”
“Aduh, maunya kamu apa, sih?”
Aku bosan diam.
Aku ingin berteriak lantang.
Menembus segenap celah dan semua lubang.
Merasuk ke ujung gendang telinga semua orang.
Aku mencintainya.
Tiba-tiba mata Re menangkap sosok pria itu lagi, ber diri
di luar ruangan sambil menyandar ke tembok, tangan nya
gemetar memegang sebatang rokok. Asapnya berham buran
keluar, gugup. Pemandangan yang membuat ter enyuh siapa
pun.
“Aku akan pulang sekarang, Lé.” Teramat berat, ia akhir-
nya memutuskan.
Pada saat seperti ini izinkanlah aku mempertanyakan,
di mana engkau letakkan aku?
Adakah aku seberharga cincin
yang melingkar manis di jarimu?
207

