Page 245 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 245
KEPING 23
Di satu titik, perasaan indah itu telah mengkristal, dan
aku akan menyimpannya. Selamanya.
Kamu adalah yang teristimewa, Ferre. Kamu telah mem-
beri aku kekuatan untuk mendobrak belenggu itu. Sekarang
aku bebas. Tapi, tidak berarti kita harus ber jalan bersama.
Izinkan aku kembali berjalan di setapak kecilku.
Rana.
Surat di sehelai folio putih polos itu tampak seperti
Lucifer yang menyamar jadi domba tak berdosa.
Reaksi pertama Re adalah tercenung kosong. Lama se-
kali. Dan, yang kedua adalah, ia tertawa. Dan, itulah pun cak
dari rangkaian paradoks yang telah menyerangnya dari awal
kisah ini dimulai. Sebuah tawa, dalam duka dan ke pahitan
yang tak terperi.
Sejenak ia merasa telah disuguhkan pertunjukan da gelan.
Kekonyolan panjang nan tragis, dibumbui dramati sasi ala
opera sabun yang memuakkan, dengan ambisi ala sinetron
bersekuel-sekuel yang membuat mual perut. Pe nonton pun
tak bisa membedakan lagi air mata apa yang berlinang di
pipi mereka. Tangiskah... atau malah tawa?
Yang jelas, pipinya bersih. Tak ternoda air apa pun.
Kelenjar air matanya mengeras, seiring dengan hatinya yang
membatu.
234

