Page 248 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 248
Kesatria schrödinger
“Dan, makna apa lagi yang masih berarti untuk me-
nyalakan hidup si Kesatria? Aku nggak tahu!” seru Dimas.
Kening Reuben berkerut-kerut, kakinya diketuk-ketuk,
pertanda ia berpikir keras. “Kamu tahu apa yang sedang kita
hadapi?” tanyanya.
Dimas tahu pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Bohlam
yang menyala ada di otak Reuben.
“Kita sedang mengalami dilema terbesar para fisikawan.
Dilema yang disuguhkan Schrödinger dengan eksperimen
kucingnya. Inilah dia. Paradoks kucing Schrödinger!”
“Look, honey, sekarang ini kita sedang menentukan hi dup
mati tokoh kita sendiri. Bukannya menyiapkan per tunjukan
sulap,” komentar Dimas kesal.
“Aku bukan asal ngomong. Kamu sendiri, kan, tahu pa-
radoks itu.”
“Ya, tapi, apa relevansinya?”
j
“Sebentar, sebentar. Beri aku waktu.” Reuben meme am-
kan mata, berusaha menerjemahkan sinyal nonlokal yang
barusan hinggap di otaknya. “Begini, kamu tahu tu uan
j
Erwin Schrödinger dengan percobaannya itu?”
Dimas merasa lebih baik ia menggeleng.
“Tujuannya adalah untuk mendeteksi perjalanan parti kel
kuantum, baik itu arah lintasannya, maupun destinasi nya. Ia
tidak menggunakan geiger counter, tetapi ku cing sebagai de-
tektor. Kucing ini ditempatkan di boks tertutup bersama
sebuah kapsul berisi racun sianida, dan sebuah pemicu yang
237

