Page 252 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 252
Kesatria schrödinger
“Sebentar dulu, maksudmu bisa ada Kesatria lain di di-
mensi lain yang hidup, lalu ada juga versi Kesatria mati?
Begitu?”
“Well, faktanya, memang observasi dari kondisi diko tomis
akan memaksa semesta untuk bercabang menjadi dua dimen-
si paralel,” Reuben mulai ikut bingung.
“Wah! Itu ide yang luarrrr... biasa! Kita akan menulis dua
kisah dari dua dimensi paralel!” seru Dimas meledak-ledak.
“Tapi, tenang, tenang, tidak sesederhana, eh, maksud ku,
tidak sekompleks itu,” redam Reuben buru-buru. “Sa yangnya,
ide itu terlalu mahal. Dalam arti, butuh materi dan energi
dalam jumlah ganda untuk setiap observasi. Benar-benar
pem borosan. Lagi pula, konon semesta paralel tidak ber-
interaksi satu sama lain. Interpretasi ini terlalu sulit untuk
dijadikan eksperimen sehingga tidak ada guna nya dari sudut
pandang sains. Tentu saja, science fiction selalu tergila-gila
dengan ide interaksi antardimensi, kalau nggak, mana seru?
Tapi, memangnya kamu niat bikin science fiction? Bukan,
kan?”
“Bukan,” jawab Dimas pelan. Kecewa.
“Coba, diingat lagi, apa yang ingin kamu buat?”
“Roman sains, romantis, puitis—”
“Dan, riil!” sambung Reuben. “Aku ingin mengungkap-
kan fakta penelitian yang sebenar-benarnya. Jangkauan sains
yang sejauh ini telah dicapai, dan aplikasinya pada level
kehidupan sosial manusia.”
241

