Page 291 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 291
KEPING 28
Diva cuma tersenyum, sambil menyeruput teh hangat nya.
“Rupiah turun lagi hari ini.”
“200 poin, kan?”
“Ya. Paling drastis dibandingkan baht dan mata uang
Asia lain.”
“Alasannya pasti sama, tidak ada insentif positif dari
dalam negeri. Bosan.”
“Plus, imbauan supaya Presiden berhenti mengeluarkan
pernyataan-pernyataan yang nggak kondusif,” sambung Re.
“Di mataku, negara tinggal sebuah museum tua.”
“Museum tua?”
“Coba, lihat di luar sana. Kehidupan sesungguhnya di-
pegang tukang-tukang dagang. Mereka punya aneka pasar
yang lebih atraktif, dinamis. Mereka cuma menyewa tem pat
atau malah mereka yang disewa? Nggak jelas lagi,” Diva
mengangkat bahu, “di dunianya tukang dagang, me nurutmu
apa yang kira-kira berperan jadi Tuhan, Ferre?”
“Uang, tentu saja. Dan, para pelaku pasar adalah eva-
ngelisnya,” Re nyengir.
“Kalau ada proses evolusi yang bisa kita rekam dari awal,
itu tidak lain adalah evolusi uang.”
“Aku setuju. Uang sebagai sebuah ide telah berevolusi
dengan sangat menakjubkan.”
“Dan, nggak ada rahim yang lebih nyaman bagi uang
dibandingkan kapitalisme. Lihat saja. Dari sekian banyak
sistem ekonomi, uang telah menyeleksi kapitalisme sebagai
280

