Page 296 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 296

Pernahkah, SuPernova?


              Re tersentak. Barangkali Alé memang semacam Nostra-
           damus untuk perkara asmaranya, tapi ia tak menyangka akan
           terbaca sejelas ini.





           Supernova


           Bunyi  modem  berderik-derik  seperti kor jangkrik.  Ada  se-
           pasang mata yang berkilat-kilat, tidak sabar menunggu kata
           itu muncul. Connected.
              Tak sampai lima menit, barisan pesan berdatangan. De-
           ngan cepat, ia menyortir satu-satu. Berulang-ulang menge-
           klik tanda reply.

              Tak ada yang mampu merenggutnya dari ruangan itu.
           Dari padat lalu lintas benaknya. Tariannya di atas sarang
           laba-laba.

           >Supernova, percayakah kamu akan suratan takdir?



           Saya percaya ada proses surat-menyurat. Takdir yang
           interaktif. Bukan satu arah. Apa pun yang Anda lakukan dan
           *pikirkan* akan berakibat penuh pada dunia. Terlepas dari
           Anda menyadarinya atau tidak. Sama halnya alam, bumi,
           yang juga punya napas sendiri. Andaikan kita cukup peka
           dengan semua ini, kita akan melihatnya sebagai proses
           surat-menyurat. Korespondensi antara sahabat pena yang
           berada dalam satu tubuh.



                                                                 285
   291   292   293   294   295   296   297   298   299   300   301