Page 286 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 286

Selamat Pagi, KoevoluSi

              “Oke, oke. Yang jelas, aku senang mendengar nada itu
           lagi.”

              “Nada apa?”
              “Nah,  di  situlah  kocaknya.  Kamu  nggak  pernah  sadar.
           Re, Re, apa jadinya denganmu kalau aku nggak ada?” Alé
           tergelak-gelak. “Nada ITU! Nada kalau kamu mulai ter tarik
           dengan seseorang.”

              “Kamu memang juaranya sok tahu.”
              “Boleh jadi kamu nggak pernah bisa diskusi Karl Marx
           denganku, boleh jadi aku cuma tahu onderdil mobil dan
           tahi-tahinya, tapi, untuk yang satu itu? Aku nggak pernah
           salah. Fakta berbicara. Sejarah mencatat.”
              “Whatever suits you, man.”
              “Tapi,  aku  salut.  Seleramu  benar-benar  konsisten,  kamu
           nggak pernah mau dengan yang biasa-biasa. Terakhir kamu

           naksir—” Alé menelan ludah, “istri orang,” nada itu semakin
           turun, “dan, sekarang,” terdengar suara menelan ludah lagi,
           ganda, dan, kalimat itu tidak diteruskan. He ning.
              Re tidak kuat lagi. Tawanya muncrat dengan keras.
              Alé ikut terpancing. Dan, akhirnya mereka berdua ter-

           tawa  terbahak-bahak.  Makin  keras  dan  keras,  sampai  ke-
           duanya terbungkuk-bungkuk, bercucuran air mata.
              Menertawakan hidup. Tak ada lagi momen yang lebih
           menyenangkan. Salah satu kapabilitas agung milik ma nusia
           dari Sang Penciptanya Yang Mahahumoris.





                                                                 275
   281   282   283   284   285   286   287   288   289   290   291