Page 295 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 295
KEPING 29
tanyanya kepada Re, “Siang-siang kali, ya? SAL. Sex after
lunch.”
“Aku nggak tahu, dan nggak mau tahu. Yang jelas,
katanya, dia sudah berhenti dari catwalk. Kalau setiap pagi
aku tanya, dia hampir selalu bilang nggak bakal ke mana-
mana.”
“Dan, kamu percaya? Oh, please. Naif amat.”
“Kenapa juga aku harus yakin dia bohong? Apa guna-
nya?”
“Aha. Aku tahu,” Alé mengangguk-angguk yakin, “kamu
lebih baik nggak peduli karena kalau kamu tahu kenyataan
sebenarnya, kamu bakalan sakit sendiri, kan? Nggak rela?”
“Dia itu manusia paling mandiri yang kutahu. Kede wa-
saannya lebih dari cukup untuk sekadar menentukan pilihan
kerja. Jadi, buat apa aku pusing-pusing soal itu? Dan, kalau
kamu mengira aku menyimpan rasa cemburu kelas kampung,
kamu salah besar. Kami cuma bersahabat. Nggak lebih.”
“Tapi, dia istimewa, kan?”
“Sangat. Soal itu, nggak akan aku mungkiri.”
“Jadi? Apa lagi?”
“Setop berpikir klise, Lé. Lama-lama muak, tauk.”
Alé nyengir. “Aku memang cuma mengujimu barusan.
Ter nyata, kondisimu lebih gawat lagi, Re. Kamu memang
nggak pengin menjadikannya pacar. Tapi, aku yakin, pe-
rasaan yang kamu miliki—terlepas dari kapan kamu me nya-
darinya—jauh lebih besar dari yang bisa kita bayang kan.”
284

