Page 300 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 300

Pernahkah, SuPernova?


              “Kita berdua merasakan sendiri betapa hidupnya kisah ini.
           Sudah terlalu banyak kebetulan yang membuat kita terce-

           ngang-cengang. Apakah nggak pernah terlintas di kepalamu
           kalau kita mungkin juga bagian dari hierarki berbelit ini?
           Dan, kunci penentu bisa ada di mana saja. Nggak lagi pen-
           ting. Yang penting rencana besarnya sudah ada, bukan? Di
           level yang tidak terganggu gugat, katamu. Jadi, bagaimana

           kalau kita letakkan pena, dan biarkan cerita bergulir dengan
           sendirinya. Cepat atau lambat, titik akhir itu pasti akan
           datang. Apa pun caranya.”
              Muka Reuben dilukisi konflik.
              “Tidakkah kamu ingin juga berolahraga, meloncat ku-
           antum seperti mereka?” Dimas tersenyum lebar. “Per tama-
           tama, kita harus membalikkan posisi, Reuben. Be cermin.
           Berhenti jadi dalang, dan ikut berperan dalam cerita.”

              Reuben geleng-geleng kepala. “Aku dapat menangkap
           maksud ide sintingmu. Tapi, aplikasinya kayak apa? Kita
           harus bagaimana?”
              “Diam,” jawab Dimas mantap. “Kita harus diam. Biar kan
           dalang yang sebenarnya menampakkan diri.”

              “Diam apa ini? Diam filosofiskah? Diam berpikir? Atau,
           benar-benar diam dan nggak menyentuh pekerjaan kita?”
           Reuben masih bingung.
              “Semuanya.” 







                                                                 289
   295   296   297   298   299   300   301   302   303   304   305