Page 302 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 302

Cermin yang Hidup

           seperti bajunya dilucuti satu-satu. Ia menge rang. Selang kang-
           annya  terasa sakit.  Berulang-ulang. Tak berhenti, rasanya

           bertahun-tahun. Tangis itu semakin pilu. Ada amarah yang
           menggelegar di dada, kecewa yang tak berujung, dan ia me-
           lihat setan-setan berbaju putih seperti malaikat. Setan yang
           mengajarkan sembahyang. Setan yang berpidato tentang ke-
           besaran Tuhan. Setan yang mengutip ayat-ayat kitab suci.

              Tuhan sendiri membeku entah di mana. Tangannya yang
           hampir setiap malam meraih minta tolong tidak per nah
           digubris. Setan, malaikat, manusia, gambar-gambar itu ter-
           aduk jadi satu dalam kebingungan dan kemarahan yang
           terus membuncah. Sakit itu tidak tertahankan lagi. Sampai
           akhirnya ia meledak.
              Setiap sel tubuhnya seperti meletus, dan aliran listrik
           mengaliri segala sudut. Mendadak segalanya gulita. Hitam

           yang tak terhingga pekatnya, tetapi tak menakutkan. Se-
           baliknya, damai. Dirinya adalah kedamaian, dan tubuh tak
           lagi memenjara. Matikah ia? Sepertinya demikian. Ia tak ada
           sekaligus berada di mana-mana. Tak ada lagi per tanyaan.
           Tak ada lagi batas dan kendala materi. Yang ada hanyalah

           keabadian.
              Sampai percikan miliaran cahaya perlahan datang, men-
           jadikan gelap tadi bening. Bening sejernih tetes embun pagi
           pertama di Taman Firdaus. Dunia hadir kembali da lam
           kejernihan, dan ia melihat dirinya di mana-mana. Warna-
           warna mencuat keluar. Wangi-wangian menyerbu rongga



                                                                 291
   297   298   299   300   301   302   303   304   305   306   307