Page 305 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 305
KEPING 30
Dimas & Reuben
“Sejujurnya,” Reuben menghelas napas, “aku nggak ta han.”
“Nggak tahan apa?”
“Nggak tahan DIAM!”
Dimas terkekeh. “Kamu memang jago teori doang,” cele-
tuknya geli.
Reuben pun berdiri, berjalan-jalan gelisah. “Di saat se-
perti ini, tidakkah kamu jadi berpikir tentang konsep free
will, kemerdekaan memilih yang konon dihadiahkan Tu han
buat manusia. Mana otoritas itu, ya? Nyatanya sering kali
kita nggak bisa mengelakkan nasib, takdir, lalu cuma nrimo.
Persis seperti keadaan kita sekarang. Berdiam diri, pasrah,
menunggu keajaiban jatuh dari langit.”
“Hei, hei. Take it easy. Kenapa kamu mendadak jadi
skeptis dan pesimis begitu?”
“Aku cuma ingin mendiskusikannya saja, kok,” Reuben
langsung beralasan. “Aku teringat Paradoks Wigner ketika
dia mencoba menyelesaikan Paradoks Schrödinger.”
“Mendengarnya saja sudah malas. Paradoks melahirkan
paradoks,” Dimas melengos.
“Eugene Paul Wigner mencoba dengan solusi pengamat
plural, lebih dari satu. Tapi, itu, kan, jadi paradoks? Lan tas,
kesadaran pengamat mana yang mengolapskan aspek ge lom-
bang? Cuma, mungkin saja Wigner benar. Para pengamat
tadi memutuskan hal yang sama karena mereka mengalami
294

