Page 61 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 61
KEPING 4
Rana pada awal usia 20
Ia bertemu Arwin. Pria santun dari keluarga ningrat ber-
usia tujuh tahun lebih tua. Bibit, bobot, bebet, dan lu luhlah
hati kedua orangtuanya. Entah luluh atau justru me ngen-
cang. Orangtua mana yang tidak ingin punya mantu dan
besan seperti itu. Punya ini-itu, saudaranya ini dan anu,
temannya si pejabat A dan pejabat B. Awalnya, semua me-
mang menyenangkan. Bagaimana mungkin tidak kalau selu-
ruh umat di sekitarnya memuji-muji setiap saat, berulang-
ulang mengatakan betapa beruntungnya Rana dapat pria
seperti Arwin? Dan, tercucilah otak itu. Ya, aku amat ber-
untung. Apa yang kurang lagi dari Arwin? Senang nya didukung
semua orang. Senangnya melihat kedua ke luarga sering ber-
silaturahmi. Tunggu apa lagi? Dan, terucap lah kalimat ijab
kabul. Agenda pertamanya begitu lulus kuliah. Sejenak
pikir annya berhenti di hari itu. Di resepsi pernikahan me-
wah dalam ballroom hotel. Resepsi impian hampir semua
orang; fasilitas kelas satu dari mulai ma kanan sampai peng-
hulu, total biaya mencapai ratusan juta tapi balik modal, dan
lebih penting lagi, sederet orang-orang penting muncul.
Entah berapa rol film yang di habiskan untuk potret bersama,
sementara ketika foto-foto itu jadi, ia tidak mengerti arti
kebanggaannya. Mungkin ia harus mundur lebih jauh lagi.
50

